PAHALA BERDOA SETELAH ADZAN

Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 

“Barangsiapa mengucapkan setelah mendengar adzan ‘allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah’ [Ya Allah, Rabb pemilik dakwah yang sempurna ini (dakwah tauhid), shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah (kedudukan yang tinggi), dan fadilah (kedudukan lain yang mulia). Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqom (kedudukan) terpuji yang telah Engkau janjikan padanya], maka dia akan mendapatkan syafa’atku kelak.”

( HR.Bukhari no. 614 )

 

Al-Wasilah yaitu kedudukan di Surga.

Al-Fadhilah yaitu derajat lebih dibandingkan seluruh makhluk.

 

Faedah Hadits

 

  1. Di antara sahabat Nabi ada yang bernama Jabir. Ia adalah seorang sahabat yang menikahi seorang janda, artinya dibolehkan seorang jejaka menikah dengan seorang janda, atau sebaliknya seorang duda menikahi seorang gadis. Walaupun yang afdhol adalah menikah dengan gadis atau perawan. Yang tidak boleh adalah homo atau lesbian (seorang pria menikah dengan pria lainnya atau seorang wanita nikah dengan wanita lain)

 

  1. Doa ini diucapkan setelah selesai adzan bukan saat mendengar adzan. Jika mendengar adzan maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan muadzin. Sebagaimana dalam hadits, (artinya) “Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan muadzin….. ” (HR. Muslim no. 384)

 

  1. Dianjurkan berdoa di saat waktu-waktu shalat (waktu mustajab waktu antara adzan dan iqomah, saat sujud juga salah satu waktu yang mustajab).

 

Di dalam shalat terdapat dua macam doa, yakni doa ibadah dan doa mas alah.

Doa ibadah seperti ucapan di kala ruku’ “subhana rabbiyal aziimi wa bihamdih” (berupa sanjungan atau pujian kepada Allah)

 

Sedangkan doa mas alah seperti ungkapan dalam duduk di antara dua sujud “Rabbigh firli-rabbigh firli.” (berupa permohonan kepada Allah)

 

  1. Penetapan adanya syafa’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi yang berdoa dengan doa ini (doa ” Allahumma rabba haadhihit dakwatit tammah….. “

 

  1. Syafa’at yang dimaksud harus memenuhi 2 syarat, yaitu:

1) Adanya izin dari Allah. Berdasarkan firman Allah, (artinya) “Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya” (QS. Al-Baqarah: 255)

 

2) Keridhaan Allah kepada pemberi dan penerima syafa’at. Berdasarkan firman Allah, (artinya) ” Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah” (QS. Al-Biya’: 28)

 

Adapun orang kafir, maka tidak ada syafa’at untuknya. Berdasarkan firman Allah (artinya) ” Maka tidak berguna bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberi syafa’at ” (QS. Al-Muddatstsir: 48)

Kecuali paman Nabi, yakni Abu Thalib ia hanya diperingan siksanya. Abu Thalib berada di Neraka tingkatan paling atas, dengan sepasang sandal (yang terbakar Neraka) otaknya mendidih.

Ringkasan dari kitab:

  1. Bahjatun Nazirin karya Syaikh Salim
  2. Miraatsun Nabiyyi fi ‘amalis Shalih karya Ubaid As-Sindy
  3. Lum’atul I’tiqod karya Ibnu Qodamah Al-Maqdisi

 

Semoga manfaat dunia-akherat bagi penulis, pembaca, dan kaum muslimin. Aamiin

 

Allahu a’lam

Oleh  : Ust. Abdullah Padha, S.S. (Rohaniawan RS. At-Turots Al-Islamy)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *