BAB MENGHARAP BERKAH KEPADA PEPOHONAN, BEBATUAN, DAN SEJENISNYA

Rs. Atturots Al-Islamy.BAB MENGHARAP BERKAH KEPADA PEPOHONAN, BEBATUAN, DAN SEJENISNYA

 

عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ »

Dari Abu Waqid al-Laitsi, ” Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat keluar menuju Khoibar. Lalu, beliau melewati pohon orang musyrik yang dinamakan Dzatu Anwath. Mereka menggantungkan senjata mereka. Lalu mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Subhanallah! Sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.” (QS. Al A’raaf: 138). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.”

(HR. Tirmidzi no. 2180. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

🐝 Dalam riwayat lain berbunyi. Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu’anhu, dia menceritakan: Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain. Sedangkan pada saat itu kami masih baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam, pent). Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka beri’tikaf di sisinya dan mereka jadikan sebagai tempat untuk menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu disebut dengan Dzatu Anwath. Tatkala kami melewati pohon itu kami berkata, “Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.”  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab, “Allahu akbar! Inilah kebiasaan itu! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengatakan sesuatu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Isra’il kepada Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan. Musa berkata: Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh.” (QS. al-A’raaf: 138). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.”

(HR. Tirmidzi dan beliau mensahihkannya, disahihkan juga oleh Syaikh al-Albani dalam takhrij as-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim, lihat al-Qaul al-Mufid [1/126])

 

✅ FAEDAH HADITS

  1. Bahwasanya bertabarruk (mencari berkah) kepada pepohonan dan bebatuan dan yang semisalnya merupakan perbuatan syirik.
  1. Orang yang baru saja meninggalkan kebiasaan buruk (misal; syirik) hatinya belum bisa dikatakan aman atau terbebas dari kebiasaan buruk tersebut.

(Oleh karena itu, wajib bagi kita – siapapun kita – untuk takut terjerumus dosa syirik sebagaimana Nabi kita dan Nabi Ibrahim berlindung kepada Allah Ta’ala dari dosa tersebut).

  1. Bahwasanya sebab berhala-berhala itu disembah (karena) awalnya diagung-agungkan dahulu, ditawafi (semedi) dan ditabarruki (dimintai berkah).
  1. Seseorang itu terkadang menganggap baik suatu perkara, ia sangka perkara tersebut mampu mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala, ternyata justru sebaliknya, bahwa perkara tersebut menjauhkan dirinya dari Allah Ta’ala.
  1. Sepatutnya bagi seorang muslim untuk bertasbih (mengucapkan “Subhanallah”, atau bertakbir ” Allahu Akbar ” apabila mendengar sesuatu yang tidak sepantasnya diucapkan dan di saat takjub (heran) terhadap sesuatu.
  1. Penjelasan bahwa kesyirikan itu akan melanda umat ini dan sungguh faktanya telah terjadi.
  1. Hadits di atas menerangkan akan tanda kenabian Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana kesyirikan telah terjadi pada umat ini sebagaimana yang beliau kabarkan.
  1. Larangan tasyabbuh (meniru) prilaku orang jahiliyah, yahudi, nasrani kecuali prilaku atau amalan yang didukung oleh dalil baik Al-Qur’an maupun sunnah (misal; menghormati tamu).
  1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan permintaan sahabat seperti permintaan bani israil kepada Musa, sekalipun mereka meminta dzatu anwat (yang diyakini bisa mendatangkan keberkahan) sedangkan bani israil minta dibuatkan sesembahan (jadi motifnya sama, sehingga masuk kategori kesyirikan walau namanya beda).

 

Diringkas dari:

– Al-Mulakhas syarh kitab tauhid karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah al-Fauzan.

– Artikel: rumaysho.com dan muslim.or.id

Semoga manfaat dunia-akherat bagi penulis, pembaca dan yang meng -share – nya. Aamiin

Wallahu a’lam

Oleh  : Ust. Abdullah Padha, S.S. (Rohaniawan RS. At-Turots Al-Islamy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *